December 27, 2016

Ganti Pemain



Hai...
Para Pembaca Setia Blog Ini
di manapun berada.


Admin ingin menyampaikan bahwa mulai pekan ini, admin tidak dapat mengisi blog ini terkait berita seputar pemuatan karya sastra Minggu dari Koran. Dikarenakan admin akan melaksanakan satu tugas penting sebagai pelajar. Rencananya mulai pekan terakhir Desember 2016 ini hingga akhir Februari 2017 mendatang.

Oleh karena itu, admin meminta kesediaan kawan-kawan pembaca yang baik hatinya, untuk setidaknya mengganti peran admin:

Menginfokan kepada publik pembaca terkait karya-karya sastra yang dimuat di Koran. Utamanya Koran Harian Fajar Makassar, Harian Go Cakrawala, dan Koran Nasional seperti Harian Kompas.

Adapun mungkin sebagai ide awal untuk masalah ini yaitu, salah satu dari kawan-kawan barangkali bisa membantu pekerjaan ini, yakni senantiasa melaporkan berita pemuatan karya-karya di rubrik budaya atau rubrik sastra di koran Minggu/Sabtu ke halaman Facebook ini. Ataukah kawan-kawan punya saran lain?

Baiklah sudahi saja kata-kata ini, semoga kena! Terima kasih.

Salam,

Admin
Sudut Desember 2016

December 25, 2016

Rubrik Budaya Harian FAJAR Edisi 25/12/2016

RUBRIK Budaya Harian FAJAR Makassar edisi 25 Desember 2016 menyiarkan Puisi Hardiansyah Abdi Gunawan dengan judul "Kota Ibu, Kota Tuhan, Kota Ketakutan" dan "Tamasya ke Dapur Ibu". Cerpen Muhammad Arifin berjudul Jangan Namai Dia Andi, serta Apresiasi Muhammad Hidayat dengan judul Risalah Kunang-Kunang dan Cerminan Masyarakat. Selamat! (*MgP)

M Galang Pratama
Rubrik Budaya FAJAR Makassar

December 23, 2016

Sepucuk Surat dari Australia

AKU hanya diam dalam sebuah ruangan persegi yang telah lima tahun ini kutinggali. Hawa kota Makassar begitu padat dengan terik dan asap knalpot kendaraan, tidak ramah bagiku yang kemana-mana hanya berjalan kaki atau – jika beruntung setelah menabung berbulan-bulan – sepeda yang bisa memendekkan waktu tempuh menuju tempat tujuan. Kuingat-ingat lagi mengapa aku bisa sampai di kota ini, hanya getir dan gemetar yang rambat ditubuhku. Terlalu sakit bahkan untuk ingatan sekali pun. Hanya peluru dan bom asap. Saat hendak pulas, terdengar seseorang mengetuk pintu kamar, lemah namun pasti. “Oraz mo nekmrgha(1), Farhad. Saya bisa masuk? Di luar terlalu panas.” Rupanya pak tua Mehmed sedang membutuhkan tempat teduh. “Masuk saja, aba. Tidak dikunci.”

Masuklah Pak tua Mehmed – itu julukannya. 60 tahun, namun jalannya masih tegap dan tidak menunjukkan tanda-tanda dia telah menua. “Seperti biasa, Makassar selalu panas. Bahkan penduduk aslinya pun sering mengeluh karena cuaca.” Pak tua Mehmed tidak langsung duduk di kursi namun memilih memandangi jendela, memandangi kota yang telah bertahun-tahun dia tinggali. Beda dengan kota asalku yang hancur oleh perang.

“Silakan duduk, aba Mehmed. Bachena ghwarom(2), kamar ini belum kubersihkan.” Kedatangan seorang sepuh tempat penampungan pencari suaka di kamar mengharuskan kamar harus rapi, selain petugas imigrasi Indonesia tentu saja.

“Tidak apa-apa, nak. Hanya sejuk yang kuinginkan, tidak lebih.” Pak tua Mehmed, tetap sederhana dan sabar walaupun telah meninggalkan Afghanistan sejak 1985, saat pemerintahan komunis Babrak Karmal dan pasukan Uni Soviet memporak-porandakan negeri yang indah itu. “Nak Farhad, dengar-dengar permintaanmu untuk masuk ke Australia ditolak, ya?”. Rambut pendeknya yang memutih beterbangan diterpa angin dari jendela.

Bisa dimaklumi, di rumah detensi kecil ini, kabar itu bisa menyebar begitu cepat tanpa membutuhkan waktu jeda. “Iya, aba. Alasannya seperti biasa, mereka bilang aku belum memiliki keahlian khusus yang mereka inginkan.” Kadang jawaban yang datang melalui selembar surat itu begitu menggelikan. Isinya yang sopan bahkan bisa kumengerti untuk bahasa Inggris-ku yang terhitung pas-pasan. Terutama di bagian penolakan. Sekolah hingga tamat di institut teknik mesin tidak menjamin aku bisa masuk Australia dengan mudah.

Aku termasuk beruntung, hanya membutuhkan tiga tahun untuk mendapatkan surat balasan. Penghuni rumah detensi ini banyak yang telah menunggu antara tujuh hingga sepuluh tahun. Setidaknya mereka masih punya harapan untuk diterima, beda denganku.

“Sudah, nak Farhad. Tidak usah sedih begitu. Gunakanlah waktumu untuk kembali melengkapi berkas, atau malah kembali ke Afghanistan jika masih punya paspor.” Paspor, sebuah buku kecil yang justru begitu penting untuk kami, para pencari suaka. Tetap kusimpan buku sasaran cap imigrasi tersebut di sela tumpukan baju dalam lemari.

Manana, aba Mehmed(3).” Pak Mehmed, orang tua dengan tutur kata dan perangai yang halus, itu dampak dari pendidikan kedokteran Universitas Kabul yang sempat dia terima hingga lulus sebelum terlunta-lunta di Asia Tenggara. Beliau sendiri ditahan tujuh tahun lalu oleh pihak imigrasi saat hendak memasuki Indonesia melalui Batam seorang diri, hanya ditemani sepeda. Sinar matanya jelas memancarkan aura kecerdasan, teduh dan tenang. Pak Mehmed pula yang kami percayakan sebagai penghubung kami dengan orang-orang imigrasi. Keluhan dan permintaan, pak Mehmed akan siap menyampaikannya dalam bahasa Indonesia yang fasih, hasil bertahun-tahun berbaur dengan masyarakat lokal.

“Aba Mehmed sendiri bagaimana? Sudah ada jawaban dari pihak imigrasi Australia?” tanyaku mencoba membangun percakapan.

“Sama sekali belum ada. Sudah 15 tahun, sejak masih di Malaysia, dan bahkan belum ada kabar. Lelah rasanya menanyakan hal sama kepada pihak imigrasi.”

“Kenapa tidak kembali ke Afghanistan saja?”. Mendadak suasana beku, walaupun terik begitu menyengat. Peluh membasahi wajah keriput aba Mehmed hingga kerah kausnya.

“Aku tidak mungkin kembali ke sana. Sudah begitu lama aku berkelana. Aku merasakan kebebasan yang telah lama kucari, tanpa terikat yurisdiksi dan portofolio lainnya. Telah kuizinkan kebebasan mengaliri darah dan nadiku.” Jelas pak tua Mehmed sembari menahan cekat di tenggorokan. Pertanda dia tengah menggali berkas ingatannya.

“Apa aba tidak rindu keluarga?” Aku bertanya sembari penasaran. Pak Mehmed tersenyum.

“Keluarga adalah tempat kita berasal, tempat di mana kita merangkai pijak demi pijak langkah kita di bumi. Tentu saja sulit untuk tidak mengingat mereka.” Mendengar itu aku pun ingat pada keluargaku di desa. Apa mereka masih hidup? Apa mereka baik-baik saja? Apa Taliban(4) masih datang ke rumahku dan meminta upeti perlindungan? Ya Tuhan, lindungilah mereka…

“Apa aba sudah terlalu nyaman dengan tempat ini?”. Mehmed kemudian menyalakan rokok kretek lokal favoritnya kemudian lanjut bercerita.

“Sama seperti dirimu, nak Farhad. Aku juga masih memikirkan kampung halamanku. Memikirkan ayahku, ibuku, kakak laki-laki, dan adik perempuanku. Gurauan mereka saat makan malam selalu datang di mimpiku.”

Bisa kurasakan kerinduan aba Mehmed. Aku sendiri juga rindu keluarga. Tapi kehadiran Taliban di desaku membuat hidup kami tidak aman lagi. Bengkel tempatku bekerja begitu lulus dibakar oleh mereka hanya lantaran bos-ku menolak memperbaiki pelontar granat mereka. Mereka juga memaksa penduduk untuk membayar upeti ke mereka dengan alasan sebagai perlindungan dari serangan marinir Amerika Serikat. Tapi, kami tidak merasa aman sama sekali. Teror yang mereka lakukan sudah terlalu jauh.

Akhirnya ayah dan ibu sepakat untuk mengirimku keluar dari Afghanistan dengan harapan agar hidupku bisa lebih baik. Awalnya pilihan antara Pakistan dan salah satu negara di Eropa. Namun tidak ada pilihan yang baik. Pakistan memperlakukan pencari suaka asal Afghanistan seperti warga kelas tiga. Sementara negara-negara Eropa sudah tidak terlalu ramah kepada Muslim. Maka dipilihlah Australia, negara yang dibangun dari kerja keras para pendatang. Ayah dan ibu juga sering mendengar cerita dari sanak saudara dan tetangga yang menemui harapan hidup baru di Australia. Namun uang tabungan yang kami miliki tidak cukup untuk biaya perjalanan semuanya. Maka aku harus rela berangkat sendirian dengan harapan bisa masuk Australia lebih dulu, kemudian mencarikan ayah dan ibuku uang untuk menyusulku. Namun, tidak sesuai rencana. Di sini aku, tidak pasti dan terkatung-katung. Rindu rumah dan tidak bisa mengirim surat karena Taliban telah membakar kantor pos.

“Apa tidak ada cara lain agar aba bisa kembali ke Afghanistan?”

“Aku selalu memikirkan caranya. Bersepeda lagi tentu saja gila mengingat aku sudah tua dan renta. Tidak bertenaga dan terlalu letih. Sudah tua dan renta. Boleh jadi aku selalu memikirkan kampung halamanku, tapi aku sudah menganggap rumah detensi ini sebagai rumah sendiri. Para penghuninya juga telah kuanggap sanak saudaraku sendiri…” Kulihat mata aba Mehmed mulai berkaca-kaca.

“Inilah yang selalu kukhawatirkan. Terlalu lama hidup dalam pelarian justru membuatmu nyaman dengan kondisi seperti itu. Padahal manusia harusnya menetap, tinggal dalam damai. Memang butuh lama untuk betah, tapi sekali betah, kita tak pernah berpikir apakah negara tujuan kita masih memeriksa berkas kita atau tidak…”

Sama seperti aba Mehmed, banyak penghuni rumah detensi yang telanjur nyaman dengan kota ini. Kami jelas tidak mungkin menyalahkan pihak Australia yang harus memproses permintaan masuk ribuan pencari suaka. Tapi kami hanya ingin hidup yang lebih baik, jangan apungkan kami dalam ketidakpastian.

Namun ada satu hal yang aku belum tanyakan. “Apa aba punya firasat akan diterima masuk ke Australia?”

“Anakku Farhad, bahkan bermimpi hal itu pun kini aku tidak sanggup…”

****

SONTAK aku bangun dari tidur siang. Percakapan dengan aba Mehmed rupanya mimpi siang bolong. Aba Mehmed baru saja meninggal dua hari yang lalu karena serangan jantung hasil dari kebiasaannya merokok. Beliau meninggal jauh dari keluarga, sebuah hal yang membuatku sedih. Kami para penghuni rumah detensi merasa kehilangan seorang kakek yang begitu halus perangainya. Pendengar keluhan kami penuh sabar lalu menyampaikan ke petugas imigrasi. Sudah sore, kulangkahkan kakiku menuju garasi tempat para penghuni menyimpan sepedanya. Jadwal rutin bersepeda, lari sementara dari sempitnya rumah detensi.

Saat hendak bersepeda, kulihat para penghuni sedang mengelilingi sesuatu di ruang tamu. Jarang-jarang ada kehebohan di tempat ini. Rasa penasaran mendorongku untuk mendekat. Rupanya sebuah surat. Kuraih otomatis surat itu tanpa peduli reaksi yang lain. Kubaca perlahan. Tertulis besar dan tebal di awal surat : “Kepada Mehmed Ghani (60 tahun), kami pihak imigrasi Australia telah mengabulkan permintaan suaka Anda.”

Tangisku pecah, tak bisa dibendung.


- Makassar, 25 November 2016


Keterangan arti bahasa Pashtun dan istilah :

(1) Oraz mo nekmrgha : Selamat siang

(2) Bachena ghwarom : Maaf

(3) Manana, aba Mehmed : Terima kasih, Pak Mehmed

(4) Taliban : Nama pasukan milisi teroris di utara Afghanistan

Karya : Achmad Hidayat Alsair*

Rujukan:
MgP
Cerpen Harian Go Cakrawala
  1. Disalin dari Karya Achmad Hidayat Alsair
  2. Pernah dimuat di rubrik Sastra Harian Go Cakrawala edisi 17 Desember 2016
*Penulis adalah Mahasiswa Universitas Hasanuddin Makassar, FISIP, Jurusan Ilmu Hubungan Internasional. Sedang gemar menulis fiksi dan menghindari topik pembicaraan skripsi. Yang terbaru, salah satu puisinya tergabung dalam buku antologi bersama Pesta Puisi Kopi Dunia 2016 “1550 MDPL”.


December 19, 2016

Rubrik Sastra Harian Go Cakrawala Edisi 17/12/2016

M Galang Pratama
Go Cakawala 17/12/2016

December 18, 2016

Rubrik Budaya Harian FAJAR Edisi 18/12/2016

Rubrik Budaya Harian FAJAR menyiarkan Puisi Syaiful Alim Darwis dengan judul Mengulang Alif yang Sama, Final Countdown dan Sia-sia Belaka. Cerpen Irhyl R Makkatutu berjudul Memeluk Retak. Apresiasi oleh Hasymi Arif dengan judul Belajar dari Chairil Anwar.

M Galang Pratama
Rubrik Budaya Harian Fajar, 18/12/2016



M Galang Pratama
Rubrik Parenting Harian Fajar, 18/12/2016

December 17, 2016

Kampung Pamali


BERUNTUNGLAH bagi kamu yang lahir dan dibesarkan bukan dari desaku. Sebab di desaku ini, kepercayaan terhadap hal-hal yang bersifat Pamali dari leluhur masih dijunjung tinggi. Entah aku yang beruntung atau kalian yang rugi atau bahkan malah sebaliknya. Tapi, inilah realitas sesungguhnya. Sejak dahulu hingga tulisan ini dituliskan, Pamali di desaku masih saja bertebaran di rumah-rumah warga. Aku tinggal di salah satu kampung yang berada di Jeneponto. Romanga nama kampungku. Bagi masyarakat Makassar pasti tahu arti dari kata Romanga. Di kampung kami Romanga adalah bahasa daerah Makassar yang berarti hutan. Dan aku akui. Dulu sebelum desa ini berdiri, kawasan ini adalah hutan. Hingga sekarang di depan rumahku pun masih berdiri pohon-pohon besar yang jika dipandang di malam hari membuat bulu kuduk berdiri. 

***

Konon dulu di kampung ini hidup seorang gadis yang sangat jelita dan memiliki suara yang sangat indah. Semua orang senang mendengar suarannya. Dewi namanya. Ia terkenal sangat suka menyanyi. 


“Battu ratema ribulang, Marencong-rencong/ Ma’rencong-rencong, Makkuta’nang ribintoeng/ Apa kananna, Attudendang baule….”

Lagu Battu Ratema Ribulang yang paling sering didendangkannya. Bahkan saat ia mandi, cuci piring dan memasak pun ia selalu bernyannyi. Berita kecantikan dan suara emasnnya bahkan tersebar hingga ke pelosok kampung sebelah. Pelbagai lamaran pun datang ke rumahnya. Namun yang mengherankan adalah semua yang datang melamar adalah laki-laki yang telah memiliki anak, bahkan ada juga yang telah bercucu. Bukan hanya itu, yang lebih mengherankan lagi, tak satu pun perjaka yang datang melamarnya. Hal ini membuat keluarga bahkan tetangganya bertanya-tanya. 

“Ada apa dengan pemuda-pemuda yang ada di kampung kita? Bukankah Dewi adalah gadis yang sangat cantik? Mengapa pemuda-pemuda desa ini mau dikalah oleh orang tua?” kata salah seorang keluarga Dewi yang baru saja selesai menerima tamu yang datang melamar Dewi. Tentu saja Dewi menolak lamaran laki-laki itu. Bayangkan saja dia telah mempunyai tiga orang istri dan delapan orang anak. mendengarnya saja sudah membuatku geli. 

“Dewi, apa kamu tidak punya seseorang yang kamu sukai?” kata Ayah Dewi usai menerima tamu. 

Dewi menunduk malu lalu berkata. “Sebenarnya Dewi suka dengan salah satu pemuda yang ada di kampung kita Ayah. Tapi, pemuda itu tidak pernah mau melihatku sama sekali.” Wajah Dewi seketika muram. 

“Siapa dia, Nak? Lelaki yang telah membuatmu jatuh hati.”

“Dia adalah Firman. Anak dari Pak Imam desa kita.”

“Baiklah, kalau begitu nanti Ayah akan bicarakan hal ini kepada Bapaknya. Kebetulan Ayah berteman dekat dengannya. Daripada keluarga kita terus-terusan diserang lamaran dari para keladi, lebih baik Ayah yang bicara langsung kepada Ayah Firman.” 

***

Matahari mulai terbenam. Suara azan telah terdengar bersahut-sahutan di beberapa masjid. Pak Ramli, Ayah Dewi bergegas menuju masjid yang terletak tidak terlalu jauh dari rumahnya. Usai salat Magrib, ia menghampiri Pak Marwan yang kebetulan sedang bersama Firman. 

“Bagaimana kabarnya, Pak?” Pak Ramli menyalami Pak Marwan dan Firman.

“Alhamdulillah, baik.” 

“Begini Pak. Marwan, saya mau bicarakan sesuatu kepada Bapak dan Firman. Ini sedikit sakral sebenarnya. Tapi, untuk saat ini saya hanya mau sekadar bertannya-tannya kepada Nak Firman.”

“Pertanyaan apami itu Om? Kenapa harus sakral?” tanya Firman penasaran. 

“Begini Nak. Kemarin lagi-lagi ada yang datang melamar Dewi. Tapi, saya heran mengapa semua yang datang melamar jika bukan orangtua pasti orang yang sudah menikah. Untuk itu saya mau bertannya kepada Nak Firman, apakah kau tidak sedang melirik Dewi? Saya mau menikahkannya dalam waktu dekat ini, sebab saya tidak enak dengan orang yang datang melamar tapi, terus-terus menolak.” Jelas Pak Ramli panjang lebar.

“Maaf Om, saya sama sekali tidak pernah melirik ke arah Dewi. Saya juga heran kenapa gadis secantik Dewi tidak bisa membuat saya linglung.” 

Mendengar pernyataan Firman, Pak Ramli menelan pahit di tenggorokannya. Ia pulang dengan beribu pertanyaaan di kepalannya. Mengapa tidak ada pemuda yang mau menikahi Dewi dan mengapa lelaki yang datang melamar Dewi adalah lelaki yang sudah berumur. Apa kesalahan Dewi selama ini? 

***

Waktu terus berjalan. Dewi sudah hampir berumur 40 tahun. Namun, tak ada satu pun pemuda yang datang melamarnya. Yang datang masih saja laki-laki yang sudah berumur. Seperti hari ini, seorang duda datang melamar Dewi. 

Dengan berat hati Dewi menerima lamaran laki-laki itu. Setidaknya lelaki yang ada di rumahnya sekarang tidaklah mempunyai istri dan anak. Pernikahan pun akhirnya digelar. Meski terdengar bisik-bisik tetangga yang tidak nyaman di telinga orangtua Dewi dan Dewi sendiri. Seperti rasa kasihan karena gadis secantik Dewi harus menikah dengan seorang duda. Bahkan sekarang para orangtua telah mendapat pelajaran. Mereka melarang anaknya melakukan kebiasaan seperti apa yang selalu dilakukan Dewi dulu. Seperti menyanyi saat mandi, cuci piring, dan lain-lain. 

***

“Riska! Kalau kau tak mau yang datang melamarmu orangtua, jangan menyanyi di kamar mandi. Berapa kali Mama harus bilang.” Suara Mama terdengar nyaring di telingaku. 

“Aduh Ma, apa hubunganya menyanyi dengan dapat suami orangtua sih?”

“Jangan membantah, Riska!!”

Yah, begitulah Mama. Tidak boleh dibantah sedikit pun. Kalau dibilang Pamali, yah tetap Pamali. Tidak a, i , u dan e. Tidak hanya aku yang mendapatkan larangan seperti itu. Semua anak gadis di kampungku pun merasakan hal yang sama.*


Karya : Ainun Jariah


Rujukan:
  1. Pernah tersiar di Harian FAJAR Edisi 11 Desember 2016
  2. Disalin dari file Ainun Jariah

Ainun Jariah
Cerpen Ainun Jariah

Tikaman Airmata Langit

Hari ini langit meneteskan airmata

Ia datang dengan tergesa-gesa

Mengetuk pintu bumi seenaknya.
*

Seseorang berada di kerumunan hujan

Perlahan lenyap ditinggal bayangan

Ketika angin kencang mulai datang

Payung diterbangkan hingga menghilang

Seluruh tumpuan melewati siraman

Airmata langit.


Seseorang di balik hujan berupaya bangkit

Setelah terjatuh di genangan luka masa silam

Tak ada lagi yang abadi kini

Setelah darah perawan dilumat habis drakula

Berwajah manusia.


Airmata langit masih menetes satu demi satu

Menjatuhi manusia manusia yang bergelimang dosa

Hujan di musim ini rupanya panggilan Tuhan

Menghapus najis di tubuh perempuan malang

Yang hampir bunuh diri di bawah tikaman

Airmata langit.

                                                  November, 2016

Karya: M Galang Pratama

Rujukan:
  1. Pernah tersiar di Harian Fajar Makassar, 11/12/2016
  2. Disalin dari blog M Galang Pratama
M Galang Pratama
Puisi di Harian Fajar, 11/12/16

December 11, 2016

Rubrik Budaya Harian FAJAR Makassar Edisi 11/12/2016

Rubrik Budaya Harian FAJAR Makassar edisi 11 Desember 2016 menyiarkan Puisi M Galang Pratama berjudul Tikaman Aimata Langit, Membakar Rumah Sendiri dan Memakan Tubuh Sendiri. Cerpen AINUN JARIAH dengan judul Kampung Pamali dan Apresiasi MUHAMMAD AMIR JAYA berjudul Setiap Tapak, Setiap Puisi. Selamat! (*MgP)

M Galang Pratama
Budaya Fajar Makassar, 11/12/2016

Rubrik Sastra Harian Go Cakrawala


Ainun Jariah
Rubrik Sastra Harian Go Cakrawala edisi 10/12/2016
Muh. Syakir Fadhli
Rubrik Sastra Harian Go Cakrawala edisi 3/12/2016

December 04, 2016

Rubrik Budaya Harian FAJAR Makassar Edisi 4/12/2016

RUBRIK Budaya Harian FAJAR Makassar menyiarkan Puisi Adibah L. Najmy dengan judul Sepasang Luka dan Renjana. Cerpen Sandra Dewi berjudul Segenggam Bara di Tangan Bapak. Dan Apresiasi Saifuddin Al Mughniy dengan judul Rindu di Langit-langit Cinta. Selamat! (*MgP)

M Galang Pratama
Rubrik Budaya Fajar 4/12/2016