May 29, 2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar Edisi 29/05/2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar, Edisi 29 Mei 2016 menyiarkan Puisi Muh. Syakir Fadhli dengan judul: Papakerma; Semesta Kecundang; Selimut Awal Hari; Senja Sepadan; dan Ruang Kosong Kesepian. Cerpen Muhajir berjudul Suatu Ketika Sebelum Jenazah Tiba. Apresiasi oleh Jumiati Lanta dengan judul Aisyah, Penyejuk Tanah Gersang. (*MgP)

May 23, 2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar Edisi 22/05/2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar, Edisi 22 Mei 2016 menyiarkan Puisi M. Galang Pratama dengan judul: Perempuan Jeneponto; Percikan Dosa; Mata; dan Sebuah Reportase. Cerpen Irhyl R. Makkatutu berjudul Sebatang Pohon Janji. Dan Apresiasi Ahmadin dengan judul Puisi "Zikir" Kepada Tuhan. (*MgP)

May 16, 2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar Edisi 15/05/2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar edisi 15 Mei 2016 menyiarkan Puisi Aida Radar dengan judul Tentang Penyair yang Kita Kenal (Untuk MAM) dan Di Malam-Malam yang Kamu Ketahui. Cerpen Fitri Ayu F. berjudul Bertuan serta Apresiasi Andi Wanua Tangke berjudul Kenangan dan Kerinduan untuk DKM. (*MgP)

May 14, 2016

Menadah Serbuk Api





Serbuk api jelma cahaya kunang-kunang
berpendar selayang pandang dipenggal jarak
mengapi-api di kegelapan memecah pekat
tapi tak jua menambal lubang gulita yang
menganga di kepala. menggeliat kisah yang
terus menerus meminang ceceran luka aib
dan malu. lebam meraja menjajaki naif
tapak
bulan-bulan api mengepung

Pecah tangis si kecil. membuyarkan sepi
yang
meriap-riap meriang di cangkang paru
lengang harap. tak ada siapa-siapa. ia jejak
khilaf yang harus dicahayai sendirian
memaksa renteng denyar jantung 'tuk
mendetakkan liar semangat sem

Ledak Laku




Bulan menguning dikelupas musim
Carut rimbunan berita berseliweran di mata
Tentang tabik dada menjadi peluru ledaklaku
Hedonis pantik keserakahan dan jemawa
Mengobarkan kuku runcing saling mencakar

Picik tabiat ibarat bohlan lupa dimatikan
Panasnya membuat melepuh tapi harga diri
justru lupa dinyalakan nurani. Amanat beku
di kitab-kitab arif sebeku rasa

Senyum Merenangi Perahu Takdir




Adalah senyum berulang-ulang menafsir
jejak bagi keteduhan. berenang di perahu
sejoli takdir yang karang. ia madu pelipur
tempat disembunyi luka yang langu

Masih mengibas selendang gemulai,
mengenang pelayaran yang sabung
jentera panjang gelombang
dan lidah amuk badai

Semata senyum yang bisa menyimp

Ruang-Ruang Arsiran




Kalender menggaris waktu yang terarsir
menghimpun kisah. jadi album kenang
di ceruk detik-detik yang terus mendentam
melukis ruang peradaban

Dalam suratan takdir yang sempurna
Bumi dan langit adalah rumah rahim
pengasuh segala peristiwa tersusun
dan terbaca sebagai kenangan
susup menumpuk lalu tersimpan
di dahi-dahi anak manusia

Disusui oleh zaman melaju oleh takdir
Pada 'sunnatulah kesejatian' lalu Adam
diberi pilihan pada buah khuldi ter

May 08, 2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar Edisi 8/5/2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar edisi 8 Mei 2016 menyiarkan Puisi Lia Zaenab Zee dengan judul Ruang-Ruang Arsiran, Senyum Merenangi Perahu Takdir, Ledak Laku dan Menadah Serbuk Api. Cerpen Rani Ar Rayyan berjudul Roti untuk Bapak dan Kenangan Tentangnya serta Apresiasi Sabir (S. Gegge Mappangewa) berjudul Pappaseng, Peribahasa Penuh Petuah. (*MgP)

May 03, 2016

Kehilangan



Malam selalu bisu,
menyaksikan luka-luka sedang duka.
Di tubuh sepi, hujan bersekutu menjatuhkan 
kesunyian.
Hening memilih diam di cela-cela 
kesenyapan.
Sementara kenyataan terbaring haru;
Sebab luka nganga

Sepenggal Kekesalan





Jauh melambung
Rasa sungkan menampar sukma
Dua biji mata
Bersua amarah
Ada apa?
Tidak ada apa-apa

Pemilik Dari Setiap Doa





Langit tampak girang
Karena dijadikannya ia lebih muda
Terberkati kembali dari tidur panjangnya
Jadi saksi atas doa terpanjatkan

Para malaikat bersama kebaktiannya
Menakar setiap wahyu
Membawa kisah-kisah luhur
Dan sederet pengharapan hamba pada Tuhannya
Setelah mengucap kalimat termanis yang

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar Edisi 1/5/2015

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar edisi 1 Mei 2016 menyiarkan Puisi Akmal Mangkana Palaloi dengan judul Periode Romantik dan Puisi Nurlaelah Azis berjudul Kehilangan. Cerpen Batara Isra berjudul Keranda Puang serta Apresiasi Irfan Palippui berjudul Jalan Sunyi Zainal Beta (Dari Tanah untuk Tanah). (*MgP)