March 27, 2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar Edisi 27/03/2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar edisi 27 Maret 2016 menyiarkan Puisi Achmad Hidayat dengan judul Ruang Interogasi (1) dan Ruang Interogasi (2) dan Puisi Muh. Syakir Fadli berjudul Pemilik dari Setiap Doa dan Sepenggal Kekesalan. Cerpen Ellyyana Said berjudul Cerita di Atas Ranjang, serta Apresiasi Rasdianah ND berjudul Tidak Semua Hal dari Perempuan Harus Dimengerti. (*MgP)

M Galang Pratama
Rubrik Budaya Fajar Makassar, 27/03/2016

March 26, 2016

Sang Revolusioner yang Terhormat



Kota Palopo yang terbakar
dibakar oleh NICA
kiri-kanan api
dipandang dengan hati
yang duka...

PATIWIRI berjuang mengangkat senjata dalam revolusi kemerdekaan menjadi anggota Pembela Keamanan Rakyat (PKR) ketika Datu Luwu ditangkap NICA. Penangkapan itu membuat pasukannya meletakkan senjata. Tapi dia menolak menyerah dan melarikan diri bersama empat orang Jepang bekas pelatih PKR. Mereka masuk hutan belantara di Sulawesi Tenggara.

Setelah keempat teman sepelariannya tewas, Patiwiri meninggalkan Sulawesi menyamar sebagai awak perahu menuju Surabaya. Sampai di Tanjung Priok terdengar kabar istrinya meninggal karena sakit. Sejak itu dia tak berniat pulang dan menjadi pelaut keliling dunia.

Baru di pelabuhan Suez, Patiwiri bertemu bekas kawan seperjuangannya di Palopo yang menceritakan bahwa kematian istrinya tidak wajar. Maka, sang pengarung lautan pun pulang demi menegakkan Siri' untuk membela kehormatan diri.

Dia mengalami dua kejadian pilu: pasukannya menyerah dan istrinya mati tidak wajar. Kepiluan itu menjadi prima causa atau faktor utama kisah dalam roman "Kota Palopo yang Terbakar" karya Musytari Yusuf.

Roman ini awalnya dikarang oleh Mohayus Abukomar dan menjadi pemenang hadiah sayembara mengarang UNESCO-IKAPI. Pertama kali terbit pada 1969 di Bandung. Bukunya sempat mengalami cetak ulang pada 1977. Kemudian kisah Patiwiri seperti terlupakan.

Selama 29 tahun, lembar demi lembar halamannya mengendap dalam masa-masa gelap. Akhirnya toACCAe Publishing di Makassar menerbitkannya kembali pada 2006.

Armin Mustamin Toputiri--yang memberi kata pengantar penerbit--mengatakan kepada penulis bahwa dia menemukan kerabat keluarga dari Mohayus Abukomar. Dari keluarganya pula Armin mengetahui pengarang itu memakai nama samaran. Nama aslinya adalah Musytari Yusuf.

Pertempuran PKR melawan NICA di Palopo pada awal 1946 diceritakan begitu pribadi dalam roman ini. Karena, menurut Armin, sang pengarang adalah satu seorang pelaku sejarah tersebut: dia memang anggota PKR.

Selain pertempuran yang menghanguskan kota Palopo, latar belakang pemberontakan DI/TII juga meng

March 21, 2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar Edisi 20/03/2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar edisi 20 Maret 2016 menyiarkan Puisi Cyrus Sabry dengan judul Ingatan, Mungkin Sebuah Kenangan dan Amsal Sebuah Sesal-Nur Hikmah. Cerpen Mira Pasolong berjudul Bus Damri, serta Apresiasi Arpan Rachman berjudul Sang Revolusioner yang Terhormat. (*MgP)

March 15, 2016

Petarung Rindu di Lontara Rindu


SAYA TERMASUK orang yang telat membaca novel Lontara Rindu yang ditulis S. Gegge Mappangewa. Padahal novel tersebut memiliki daya tarik yang kuat, karena merupakan pemenang lomba novel yang diadakan Republika tahun 2012. Siapapun pasti tahu, karya yang menjadi pemenang pastilah karya yang memiliki kualitas terbaik, termasuk novel Lontara Rindu yang mampu menyingkirkan ratusan novel peserta lomba.

Saya tak menemukan alasan yang berarti kenapa saya telat membaca novel tersebut, selain bahwa saya termasuk orang yang tidak terlalu mudah terpengaruh oleh hiruk pikuk sebuah karya terbaik. Saya biasa mendiamkannya, lalu pada suatu waktu yang kadang tidak terduga, saya akan melahapnya. Setelah membacanya Lontara Rindu saya tahu kenapa menjadi pemenang. Kisahnya mengharu biru. Apalagi saya menyukai kisah cinta yang tragis. Kisah cinta Halimah dan Ilham salah satunya.

Halimah dan Ilham serupa dua kutub yang berbeda, tapi memiliki rasa ketertarikan untuk saling melengkapi. Perbedaan pendidikan yang mencolok hingga perbedaan keyakinan yang harus diterabas demi menyatukan cinta mereka. Bagaimana Halimah dengan suka rela meninggalkan Azis, calon suaminya demi membuktikan cintanya kepada Ilham. Dan bagaiman luar biasa gigihnya Ilham menunggu Halimah hingga berhari-hari di pinggir jalan.

Dari cinta itulah, tumbuh satu peristiwa yang menohok hati, yakni kerinduan. Cinta dan kerinduan tak pernah bisa dipisahkan, tak pernah. Kerinduan membawa cinta dan cinta membawa kerinduan. Hanya saja, cinta bisa tumbuh pada jarak yang paling dekat. Sementara rindu hanya bisa tumbuh jika ada rentang jarak yang memisah.

Penyatuan cinta yang melanggar adat karena silariang (kawin lari) antara Halimah dan Ilham kemudian melahirkan sosok yang tangguh dalam bertarung rindu bernama Vito. Kerinduan yang dialami Vito, sungguh di luar kemampuan seorang anak seusianya, yang baru sepuluh tahun lebih. Rindu yang tarik ulur pada dua orang sekaligus. Bisa dibayangkan, bagaimana beban rindu yang datang bersamaan itu, kepada saudara kembarnya yang bernama Vino dan kepada ayahnya. Kerinduan itu pula yang membuatnya harus rela begadang di pos ronda, mendengar cerita dari para penjaga, demi bisa lari dari rindunya.

Kerinduan yang menumpuk itulah yang membuat Vito rela mengunjungi Amparitta demi bertemu ayah dan saudaranya. Mengunjungi tempat asing, tentu bukanlah perkara muda pula bagi anak seusia Vito. Tapi rindu mengalahkan segalanya. Sementara ibunya, mengalami pula rindu yang gelitar, tapi rindu ibunya hanya pada satu sosok, yakni Vino. Maka kerinduan Vito lebih besar dari ibunya, karena ia menanggung rindu kepada dua orang sekaligus.

Dalam Kamus Bahasa Indonesia (KBBI) rindu memiliki arti sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu. Vito sangat berharap bisa bertemu dengan saudara kembaranya, Vino dan ayahnya, Ilham. Apakah rindu akan hilang setelah pertemuan? Jawabannya tentu tidak, sebab tidak ada rindu yang benar-benar bisa hilang setelah pertemuan, hanya menipiskannya sejenak kemudian menumbuhkannya kembali lebih seubur setelah pertemuan.

Berbincang tentang rindu, selalu saja mengarah pada lawan jenis,

March 13, 2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar Edisi 13/03/2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar edisi 13 Maret 2016 menyiarkan Puisi Dewi Hastuty Hasri Tadda dengan judul Jeda Sarira dan Mantra Cinta. Cerpen A. Asis Aji berjudul Sibintangeng, serta Apresiasi Irhyil R. Makkatutu berjudul Petarung Rindu di Lontara Rindu. (*MgP)

March 08, 2016

Tidak Sakit

BANYAK PERCAYA ruangan itu adalah tempat di mana keputusasaan berlabuh. Ruangan ini berseliweran darah, tangis, dan histeris. Namun berbeda dari Darius, ruangan berbilik-bilik ini memberinya penghidupan yang layak juga kemewahan. Kematian adalah hidupnya. Dia dapat menatap sakratul maut berseliweran sedingin mayat, tanpa emosi, perasaan, dan empati. Terlalu repot buatnya.

Di salah satu biliknya berbatas tirai, terbaring seorang pasien perempuan lanjut usia. Mata putihnya terlihat. Nafasnya lambat dan berat walaupun mulutnya tersuplai oksigen dari sungkupnya. Tubuhnya sedikit bergetar seakan menolak dijemput maut. Darius berada di sampingnya fokus menatap grafik EKG[1], Seorang perawat sedang sibuk melakukan tensi dan mengecek cairan infus yang mengalir ke dalam pembuluh darah pasien tersebut.

Adalah anak lelakinya yang sedang memegang tangan si pasien. Anak perempuannya, berada di sampingnya terisak-isak dengan volume yang dikencangkan. Darius berusaha tidak peduli akan gangguan itu. EKG terlihat lurus. Ia menanyakan detail kondisi pasien kepada perawat.

Ia berbisik pada anak lelaki, untuk berbicara atau bernegosiasi di luar bilik. Berceritalah tentang kondisi Si Pasien itu panjang lebar. Bisa dibilang Darius cukup ahli dalam hal menghakimi hidup-mati.

“Maaf, kami sudah membantu sebisa kami, dan kami tidak bisa banyak membantu, seandainya saja ibu di CT Scan dan operasi kami bisa.….”

Belum ia selesai bicara, Tiba–tiba dari belakangnya seorang lelaki lanjut usia memakai peci khas lokal menegurnya,

“Ndi, adik saya ini tidak sakit, dia cuma kerasukan roh buyut saya yang rindu anak-cucunya. Tidak butuh operasi...”

“Maaf panggil saya dokter,” pungkasnya.

Selama beberapa detik terjadi kekosongan. Terlihat kantong plastik, Tersembul ujung botol air kemasan, entah apa sisa isi lainnya.

“Saya akan buktikan,” ujar Si Kakak.

Darius kemudian melihat kakak pasien tersebut berkomat- kamit membacakan sesuatu kepada Si Pasien. Bahasa itu tidak pernah didengarnya dan kesannya sangat primitif. Sayangnya itu tidak ada di dalam textbook dan pendidikan kedokteran yang menempanya bertahun-tahun di Inggris, juga seminar dan workshop kesehatan Internasional.

Darius kemudian duduk dengan kesal di meja yang berada tepat di depan bilik itu. Teringat pemeriksaan CT dan Operasi yang disarankannya hanya beberapa juta saja.

“Jadi bagaimana dengan pasien tadi dok?” tanya perawat.

“Cabut saja perlengkapannya, percuma saja perawatannya dilanjutkan, Tensi dan nadi hampir hilang. Operasipun menolak. Apa lagi yang diharapkan ? ”

Perawat kemudian mengangguk, ia kemudian curi pandang ke bilik pasien tersebut lewat sela tirainya. Ia melihat bagaimana Si Kakak menyemburkan air dari mulutnya seperti hendak memberi hujan ke tanah kering. Ia tersenyum kecut.

“Kalau mau gratisan, seharusnya dia mengurus Surat Jaminan Sosial dan Kartu Pengenal di desanya.” ujarnya

“Kakaknya yang tadi itu orang pintar kampung dan tidak ingin dirawat di sini. Bidan Puskesmasnya saja yang memaksa” imbuh perawat tersebut.

Seluruh staff di ruangan itu tahu, bahwa orang pintar kampung itu mengacu pada sandro, dukun selama ini menjadi hal yang dibenci Darius. Beberapa kali dirinya terlibat perdebatan dengan kepala dinas perihal penangkapan praktek pengobat tradisional di daerah ini yang dianggapnya malpraktek. Bahkan dirinya bersama polisi turun langsung penangkapan beberapa sandro kampung yang dituduhnya melakukan praktek aborsi dan penipuan. Ternyata salah seorang musuhnya kini berada seruangan dengannya, di depannya, di wilayah kuasanya dan seakan menantangnya. Saya pasti pemenangnya. ujar dalam hati Darius

Ia sering membandingkan kondisi tempatnya ini dengan rumah sakit ibukota tempatnya dulu bertugas, Penanganan cepat dan tepat senantiasa dilakukannya. Orang metropolitan dianggapnya memahami dokter dan obat selaku nabi ilmu pengetahuan. Tapi tujuannya hanyalah isi rekening dan masa depan. Di daerah sangat terpencil inilah pundinya menjadi cepat berlipat.

Pamannya, kepala daerah yang baru saja terpilih di sini. Jabatan kepala rumah sakit dipastikan untuknya dua tahun depan. Dengan koneksi serta cap lulusan luar negeri, tak ada yang berani melawannya sekarang. Terbukti setelah kepala dinas lawan debatnya telah dimutasi beberapa bulan lalu.

Darius kemudian melihat jam dinding di atasnya menunjukkan pukul empat dini hari. Pagi atau malam tak dapat dibedakan dalam ruangan yang selalu terang ini. Tak ada seorangpun memusingkan jam atau detik di sini. Hanya kemenangan antara hidup dan mati menjadi penanda akhir waktu.

Secangkir kopi dan, belum disentuhnya semenjak permulaan shiftnya. Beberapa jam lagi shift malamnya akan segera berakhir, Darius kembali ke mejanya dan mulai menulis laporan jaga untuk dokter penggatinya. Tercium olehnya asap dupa dari bilik di hadapannya. Perawat kemudian bergegas ingin memberi tahu untuk mematikan, namun Darius menahan.

“Biarkan saja. Siapkan saja laporan kematian ke kamar jenazah dan

March 06, 2016

Bara di Ujung Pattiro


#15 Juli 1905

Malam mulai meremang, magrib pun sudah menjelang ketika utusan Dulung Pajalele menemui I Mattappa di rumahnya.
“Petta Dulung menunggu kedatanganmu seusai magrib di rumahnya. Penting.”
Pesannya singkat, tak ada penjelasan tambahan. Utusan yang merupakan orang kepercayaan Dulung itu berlalu dengan tombak di tangan kanan dan obor penerang di tangan kiri.
Seusai berwudu di gumbang, tempayan dekat kaki tangga depan rumahnya, I Mattappa menapaki satu persatu anak tangga dengan pikiran bercabang. Ada apa gerangan Dulung Pajalele yang juga masih sahabat almarhum bapaknya, memanggilnya begitu mendadak? Jangan-jangan hubungannya dengan I Patimasang, puteri Dulung Pajalele sudah ketahuan? Seusai salat, dia menuju rumah Dulung Pajalele, memenuhi panggilan mendesak yang entah karena apa.

“Tentu kau kaget kupanggil mendadak, Nak.” Dulung Pajalele membuka pembicaraan.
“Iyye', ada apa gerangan saya dipanggil oleh Petta, Puang.” Jawabnya sambil membetulkan duduknya. Mereka bersila berhadapan di atas tikar pandan.
“Keadaan Kerajaan lagi genting, Nak.”
I Mattappa hanya terdiam, Dulung Pajalele melanjutkan tuturnya.
“Kemarin, Batara Tungke'na Bone menerima surat dari Kolonel Van Loenen, Panglima Tentara Ekspedisi Hindia Belanda.”
“Apa isi suratnya, Puang?” Di bawah cahaya pelita yang meliuk-liuk, muka I Mattappa terlihat menegang mendengar Hindia Belanda disebut.
“Ultimatum, Nak. Bila Bone tidak memberi mereka kekuasaan penuh di BajoE, mereka akan menyerang dalam 15 hari...”
“Kurang ajar!” Seru I Mattappa, tinjunya menghantam lantai rumah. Ota-otang, peralatan sirih-pinang Dulung Pajalele sampai terpelanting.
“Tenangkan dirimu, Mattappa!”
“Maafkan saya Petta, Puang. Tapi saya tak bisa terima kita dipermalukan begini.” I Mattappa merendahkan muka, menyadari keberadaannya.
“Kita semua tentu tak terima penghinaan ini, tapi jangan terburu emosi. Sekarang pulanglah, besok kau temani aku menghadap ke Petta PonggawaE untuk memastikan langkah selanjutnya.”
“Iyye', Puang.”


#12 Juli 1905

Seusai mengantar makan siang untuk para pekerja di sawahnya, I Patimasang beranjak pulang. Namun di sebuah dangau yang tepat berdiri pada batas persawahan dan hutan kecil di ujung kampung, perjalanannya terhenti. Dia dicegat oleh I Mattappa, sahabatnya sejak kecil.
“Daeng, kenapa mencegat saya di sini?” Seru I Patimasang kaget, namun sejurus kemudian dia tersipu, tertunduk malu. Tangannya mempermainkan jalinan bunga melati di simpolong-nya.
“Tak bolehkah saya sekedar ingin berjumpa denganmu dan tak perlu alasan?” Jawab I Mattappa sekenanya.
“Bukan begitu, Daeng. Tapi bukankah ini melanggar pangadereng? Adat yang kita pegang teguh?” Suara I Patimasang terdengar cemas.
“Apa I Saleha sudah menyampaikan paseng na selleng uddanikku? Pesan dan salam rinduku?” Sambil menggaruk-garuk kepalanya.

I Patimasang tak bersuara, hanya mukanya yang kian ditekuk dan bersemu merah.
“Kenapa tak menjawab, Andi’. Aku membutuhkan jawabanmu sekarang.” Sambil mempersilahkan I Patimasang duduk. Siang yang hening, angin berhenti berkesiur.
“Ataukah dirimu sudah bunga ri palla’? Sudah dalam pinangan?” I Mattappa menatap tajam ke arah I Patimasang. Yang ditatap cuma mampu memalingkan wajah. Mukanya tersenyum, hatinya ikut tersenyum. Tapi dia tak mampu menjawab tanya I Mattappa.
“Andi’, jangan membuatku sajang rennu, saya tak sanggup patah hati.” I Mattapa terus mendesak.
“Saya ingin menjadikanmu tau ri tangke’na atikku, ratu di singgasana hatiku.”
Mata I Patimasang membelalak, seakan tak percaya kata-kata I Mattappa yang demikian berani.
“Patimasang, Ikau tau ri tangke pulana-ku. Kita ditakdirkan bersama. Kau mau kan?” Lanjut I Mattappa. Mendengar itu, I Patimasang berdiri dari duduknya, manatap manja ke arah I Mattappa dan mengangguk halus. Lalu disingsingkannya ujung sarungnya dan berlari pulang menyusur pematang sawah.

Sepeninggal I Patimasang, I Mattappa menutup mata, menengadahkan kepala, dan menarik nafas panjang. Dia mencoba menenangkan diri dari gairah rindu yang membuncah, cinta yang berbalas cinta.
Dia keluarkan badik yang selalu tersampir di pinggangnya. Dengan ujungnya yang runcing, dia mengukir bait pujian pada I Patimasang di lantai papan dangau.
Macole adanna / Makanja kedona / Malebbi ampena
Ikau tau sukku / Ikau tau ripojikku / Ikau tau ri tangke’ pulanaku

#17 Juli 1905

“Poleni temmakkuae, kita tak ada pilihan.” Dulung Pajalele membuka pertemuan sambil

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar Edisi 06/03/2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar edisi 06 Maret 2016 menyiarkan Puisi Lula Arimbi dengan judul Menyimak Hujan yang Jatuh di Tubuhmu Siang Ini; dan Sebelum Berangkat. Cerpen Kasman McTutu berjudul Bara di Ujung Pattiro, serta Apresiasi Ishak R. Boufakar berjudul Khadijah, Wanita Penghuni Surga. (*MgP)


M. Galang Pratama
Cerpen Kasman McTutu, Koran Fajar, 06/03/2016
(Sumber gambar di-copy dari Facebook Kasman McTutu)

M. Galang Pratama
Apresiasi Ishak R. Boufakar, Koran Fajar, 06/03/2016
(Sumber gambar: di-copy dari Facebook Ishak R. Boufakar)

Rubrik Seni Koran Kompas Edisi 06/03/2016

Rubrik [Hiburan] Seni Koran Kompas edisi 06 Maret 2016 menyiarkan Cerpen MARTIN ALEIDA berjudul Asmara dan Kematian di Perbatasan Tiga Negara. (*MgP)

Seperti Puisi



Jika bersamamu adalah luka
Maka biarlah aku menjadi kata 
Jika hanya kecewa dan penyesalan yang kubawa 
Selepas kita bertemu, hanya air mata yang kau kabarkan padanya 
Tiada lagi kata, untuk bisa mempertahankan kita.
Kuharap kau bisa bersenda gurau pada kerabatmu 
Pada semua orang yang menjadikanmu ratu 
Aku akan datang ketika puisi telah menjelma jadi waktu 
Yang menjadikan kita bersatu dalam tali yang padu.
                                                                              Makassar, 2016



Karya: M Galang Pratama

Rujukan:
  1. Disalin dari Notes Facebook Galang Pratama Muhammad
  2. Pernah tersiar di Koran Fajar Makassar, 28 Februari 2016

Sastra Cyber: Generasi Teks dan Pencinta

“Sejarah manusia merupakan tanah pemakaman dari kebudayaan-kebudayaan yang tinggi, yang rontok karena mereka tidak mampu melakukan reaksi sukarela yang terencana dan rasional untuk menghadapi tantangan."
(Erich Fromm)

PARA PENGGIAT sastra cyber percaya bahwa karya sastra yang mereka kerjakan dan dipublikasikan melalui medium internet adalah bukan semata teknologi informatika. Lebih dari itu, yang mereka kerjakan adalah sebuah keniscayaan hasil peradaban dan kebudayaan. 

Sastra cyber bukan sebuah barang yang pantas dipolemikkan jika para tukang polemik itu mau memahami sejarah. Pastilah mereka belum tahu bagaimana ketika seorang manusia di zaman batu yang belum mengenal kertas, tiba-tiba menemukan ruang ekspresi di dinding gua. Pengalaman batinnya yang sederhana dituangkan melalui lukisan guratan batu dan tulang di media dinding gua. Kertas pun ditemukan, ekspresi manusia berpindah medium ke media cetak. Radio dan televisi pun datang, muncullah berbagai wadah ekspresi yang baru, juga yang aneh-aneh. Internet pun datang, muncullah ragam wadah baru yang lebih kompleks tapi justru juga diikuti tukang polemik.

Sastra cyber tetap saja bagian dari budaya teks. Lebih dalam lagi, pesastra cyber lebih layak masuk kategori generasi teks. Generasi teks adalah angkatan yang menjadikan tulis-menulis sebagai bagian penting, dalam hal-hal sekecil apapun. Teks mereka tidak hanya di internet. Mereka ada di mana-mana, dalam SMS, dalam BBM, dan lain-lainnya. 

Sastra cyber disepakati sebagai sebuah revolusi. Sebagaimana internet menjadi revolusi media kedua setelah penemuan mesin cetak Guttenberg dan ketiga setelah kehadiran televisi. Sebelum munculnya sastra cyber, dunia sastra Indonesia sendiri telah memiliki beberapa kekhasan yang terkait dengan keberadaan teknologi media seperti sastra majalah, sastra koran, dan sebagainya. Ketika biaya publikasi semakin mahal, keberadaan sastra cetak pun dirasa telah membangun hegemoninya sendiri, internet pun datang. Komunitas-komunitas sastra maya bermunculan. Dengan memanfaatkan teknologi dan kreatifitas internet menawarkan iklim kebebasan, tanpa sensor. Semua orang boleh memajang karyanya, dan semua boleh mengapresiasinya.

Sangat ironis, tantangan di Indonesia justru muncul dari dunia sastra sendiri. Sekali waktu sastra cyber, dengan sifatnya yang bebas itu pernah dituding oleh beberapa pihak sebagai sekadar ajang main-main sehingga karya-karyanya pastilah tak bermutu. Meski demikian, seiring berjalannya waktu, saat ini eksistensi karya sastrawan cyberpun sudah mulai makin diakui oleh masyarakat, walau untuk apresiasi mungkin masih dipandang sebelah mata oleh sebagian “kelompok sastra mapan”. 

Penggunaan istilah sastra cyber sendiri secara gamblang menyatakan

Salah



"Apakah waktu?" tanyamu
Karena renungan hanya diperuntukkan kepada
sebahagian saja pada waktu itu.
Sedang banyak lalai, banyak lupa
Terus saja menikmati isi dunia
Padahal kalau sadar akan sakit rasanya
Jika Tuhan juga punya benci kepada hamba-Nya.
Kau berkata lagi:
"Mungkin waktu yang salah"
Hingga benar-benar jiwa terketuk, sambil
kaurasakan jernihnya air mata mengalir deras
dari matamu. Lalu kau pun tersadar: ternyata jadi
penguasa tak selamanya mampu menyelamatkan.
                                                                      2015


Karya: M Galang Pratama


Rujukan:
  1. Disalin dari Notes Facebook Galang Pratama Muhammad
  2. Pernah tersiar di Koran Fajar Makassar, 28 Februari 2016

Suara Senyap


Sengaja membiarkan suara itu berpendar dengan
sendirinya. Kalau saja sinyalnya redup, matilah
sudah. Harapan yang dulunya terang seketika
berubah menjadi asing. Tanpa amanat!

Laksana api-merah yang menyelimuti sang
calon. Sedang di sekelilingnya ada angin yang
mendinginkan suhunya. Lalu, mengapa ia tak
pernah lelah bersuara?
Tak seperti binatang. Bahkan ia adalah
hewan. Yang kadang menghilang ketika media
menyatakannya bersalah. Ia katanya tak bisa
dijadikan pantun, apalagi puisi.

Kalaupun itu adalah suaramu. Semoga bukan
berasal dari kerongkonganmu.
Sebab kau tak

March 04, 2016

"Puisi Panggung" dan "Puisi Kamar"

AWALNYA MEMANG penyair menulis puisi bukan untuk dibacakan di depan umum. Melainkan untuk dibaca dalam hati agar maknanya dapat diserap dan direnung oleh pembaca. Tradisi pelisanan puisi di depan umumlah yang mengembangkan situasi itu sehingga dikenal pula cara-cara sosialisasi lain, yaitu pembacaan puisi atau “poetry reading”. 

Tradisi tersebut sebenarnya sudah ada sejak dahulu, yakni sejak tradisi kelisanan. Para pujangga membacakan karyanya di depan sidang para raja yang malas membaca. Namun baru dikenal secara luas sejak tahun 1966. Pada era tersebut tumbuh gerakan sastra bernama “Angkatan 66”. Para penyair dan juga seniman-seniman lainnya tidak mau tinggal diam hanya sekadar mencatat peristiwa-peristiwa pergolakan yang terjadi di masa itu.

Mereka perlu meletupkannya sebagai bentuk perlawanan. Mereka menggunakan sastra sebagai salah satu alat melawan tirani kekuasaan. Maka tercatatlah para penyair muda yang memiliki elan vital seperti Taufik Ismail, Abdul Wahid Situmeang, Mansur Samin dan lain-lain yang sering membacakan puisinya di depan para demonstran, menyuntikkan semangat perlawanan terhadap kekuasaan orde baru yang tiran.

Dan sekembali dari Amerika pada tahun 1967, penyair muda berbakat WS. Rendra yang dikenal dengan julukan “si Burung Merak”, telah mengemas dan menjadikan pembacaan puisi sebagai tontonan yang menarik publik dan mendapat apresiasi yang luas di tengah masyarakat. Dari pembacaan puisi WS. Renda kritik sosial berlompatan.

Pembacaan puisi ala WS. Rendra ini lama menjadi model pembacaan pusi di Indonesia. “Poetry Reading”, demikian istilah populernya, kemudian menjadi salah satu bagian dari lomba-lomba siswa di sekolah menengah sampai ke perguruan tinggi, menggeser istilah “Bersanjak” (Deklamasi) yang dulu kita kenal menghafal puisi di panggung dengan gerakan kaku. Perbedaan antara model “Baca Puisi” (Poetry Reading) ini dengan “Bersanjak” (Deklamasi) memang tidak saja terletak pada karakter performan-nya, tapi juga pada materi.

Poetry Reading dilakukan dengan membaca puisi sambil membawa naskah puisi yang dibacanya, walaupun naskahnya sudah dihapal luar kepala, sedangkan “Bersanjak” (Deklamasi) tidak membawa naskah puisi, karena itu naskahnya harus dihafal sebelumnya. Di samping itu, ada kesan pembacaan “Sanjak” harus dilakukan dengan gerakan-gerakan “resmi” yang sangat kaku dan tidak memiliki kebebasan bergerak, sedangkan pada pembacaan puisi gerakan, ekspresi dan mimik adalah milik pembaca yang bebas untuk digunakan sesuai dengan karakter dan tuntutan puisi yang dibaca. Karena itu pembacaan puisi biasanya lebih kreatif dan variatif.

Munculnya pembaca-pembaca puisi kreatif, seperti Sutardji Calzoun Bachri yang membawa kekuatan magic dengan “kemabukannya” di panggung menciptakan kontroversi pembacaan puisi di Indonesia. Demikian kreatif Sutardji bukan hanya puisi-puisinya yang dinilai inkonvensional itu, tapi juga cara membaca puisinya di depan publik. Ia membaca puisinya sambil menenggak bir dan menjadi mabuk. Pada sebagian orang ia memberi kesan dilematis: puisi yang dianggap sebagai wacana ‘agung’ itu disampaikan dengan cara ‘nista’ (mabuk-mabukan).

Sebagian lagi mengapresiasi kemabukan Sutardji sebagai sarana untuk mencapai kondisi ‘intance’, yang menyatukan dirinya dengan puisi mantra-nya, sebagaimana konon para darwis yang yang mengekspresikan keimanannya melalui tarian kemabukan diiringi musik Parsi dan lirik-lirik puisi Rumi.

Kemunculan pembaca-pembaca puisi lain yang tak kalah kreatif seperti Sosiawan Leak, Jose Rizal Manua, Iman Soleh, Amin Kamil, Godi Suwarna, Samar Gantang dan Asrizal Nur telah menjadikan pembacaan puisi sebagai media seni teatrikal. Bahkan Asrizal Nur telah membawa pembacaan puisi ke tingkat tinggi melalui pentas pembacaan puisi multimedia-nya yang

Pedang dan Perisai Perang

perang telah sejak lama selesai,
telah kupulun pula segala perisai,
yang pernah terabaikan pedang,
pedang pada kilat matanya,
mata yang cuai pada tajam,
tajam yang lupa pada batu asahan,
batu yang alpa pada gesekan,
gesekan yang tak perduli sepi,
sepi yang mengiris-ngiris janji

bukankah kau juga yang menyatakan,
perang terhadap kaumku di muka sultan,
kau pilin segala yang belum terjalin,
kau jalin benang merah hitam putih,
yang dititiskan datu berjanggut pasi,
biar segala tajam bersimpul ke mata pedangmu,
dan aku masih menggenggam pedang sana lenggam,
yang dititiskan moyangku dari selatan,
bukankah kau juga yang menghardik datu dan hulubalang,
yang terpaksa menjadi sekutumu,
padahal kau hanya memupuk cemburu pada sultan,
hilangkanlah tondi hitam dalam dirimu,
juga igau pada

March 03, 2016

Pendongeng

                                                         __Bagi Raedu Basha dkk.

kami percaya, segala yang ditetau kembali tumbuh,
dari segala yang menjulang akan kembali merunduk

kami pun menunggu embun segar di pucuk-pucuk,
dan kemurnian daun-daun tembakau, getah karet

aroma damar, yang tercatat dalam kitab dan traktat,
bau kopi, wangi cengkih, rempah yang beraroma kuat

kami percaya, segala yang ditebas kembali meranggas,
dengan segenap kesungguhan, rebana ini kami tingkah

suara yang akan menggetarkan orang-orang Bhalanda,
gemerincing-gemerinc­ing asahan celurit tanah Madura

kami jaga rimba ini, dengan sepenuh cinta yang tak terkata,
kami tegakkan sekolah-sekolah dari cinta yang pernah tergadai

tak ada pedang di sini,