February 28, 2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar Edisi 28/02/2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar edisi 28 Februari 2016 menyiarkan Puisi M Galang Pratama dengan judul Suara Senyap; Salah; dan Seperti Puisi. Cerpen Dhihram Tenrisau berjudul Tidak Sakit, serta Apresiasi Badaruddin Amir berjudul "Puisi Panggung" dan "Puisi Kamar"(*MgP)


M. Galang Pratama
Budaya Koran Fajar Makassar, 28 Februari 2016
|Foto by MgP|

Rubrik Seni Koran Kompas Edisi 28/02/2016

Rubrik Seni Koran Kompas edisi 28 Februari 2016 menyiarkan Puisi MAY MOON NASUTION dengan judul Pendongeng; Pedang dan Perisai Pedang. Dan Puisi HASAN ASPAHANI berjudul Bayangan Pohon; Anak dan Pohon; Di Rumah Penyair; Kartu Katalog; Pesan; Ajalmu Jauh di Pulau; Jarak antara Bermimpi dan Terjaga. Cerpen DES ALWI berjudul MARDI. (*MgP)

February 22, 2016

Mengapa Mereka Berdoa kepada Pohon?

Koran Mingguan MgP
Karya Claudia Clara

Aku tumbuh menjadi pohon. Orang-orang di kampung kami akan tetap percaya bahkan jika harus didebat hingga mulut berbusa. Mereka mulai memercayainya sejak tahun 1947. Kini, pohon asam itu sudah besar dan semakin tua. Kira-kira dapat diukur dengan lima orang dewasa melingkarkan lengan untuk mampu memeluk batangnya. Hampir setiap hari orang merubut di sana mengucapkan doa yang rupa-rupa jenisnya lantas mengikatkan kain rupa-rupa warnanya dan berjanji membuka ikatan itu setelah doa mereka terkabul. Jadi jangan heran ketika di ranting, dahan, batang, atau tidak berlebihan jika kukatakan hampir semua bagian pohon penuh ikatan kain. Ada banyak doa di sana. Demi menjaga tubuhku, ada pagar beton sedada manusia, berwarna hijau lumut, mengelilingi batang pohon. Para pedoalah yang membangunnya.

Ketika perang kembali pecah, awal 1947, yang orang-orang temukan tentu saja bukan pohon asam, tetapi kira-kira seperti ini: kami bergerombol digiring seperti kerbau. Kaki tangan kami dikekangi tali dari pilinan daun pandan. Bedil Belanda menuntun dengan moncongnya — dan sesekali mempercepat langkah kami dengan popor yang mendarat di tengkuk atau tulang kering. Kami tahu, beberapa saat lagi hidup kami akan direnggut satu demi satu.

***

Desember 1946 baru saja dimulai ketika sebuah kabar tiba di langgar tempatku setiap hari mengajari anak-anak mengaji. Aku memberi isyarat kepada Rahing; jangan sampai anak-anak dengar, kataku memelankan suara sambil berdiri menuju belakang langgar yang kemudian disusulnya. Anak-anak kuminta melanjutkan bacaannya, nanti Bapak kembali, janjiku kepada mereka.

“Mereka tiba di Makassar,” suara Rahing tidak pernah secemas itu, “pasukan tambahan, tambahannya banyak,” susulnya gemetar.

“Siap-siap saja,” kucoba setenang mungkin meski dadaku tentu saja kembali bergolak. Dari Makassar baru saja kudengar kabar kalau mereka kembali ingin menguasai pusat-pusat perlawanan di Sulawesi-Selatan, kabar itu tiba beberapa minggu sebelum Rahing menyusulkan kabar tentang ketibaan pasukan khusus Depot Speciale Troepen — DST, KNIL, yang mulai bergerak ke kampung kami ini; di Bacukikki, jantung Afdeling Parepare.

Bersama Rahing, bersama Laskar Andi Makassau lainnya, aku pernah berjuang sebelum kemerdekaan — dan ketika semuanya telah kami rebut, penjajah laknatullah itu kembali. Sebelum pulang, Rahing sempat menanyakan bagaimana langgar, bagaimana anak-anak, dan sedikit mengeluh bahwa ia telah capek mengawal penduduk keluar masuk hutan. Aku menepuk pundaknya sebelum mengatakan: Insya Allah, semuanya akan baik-baik saja.

“Saya pamit, assalamualaikum, Ustad.”

Aku menjawab salam Rahing lantas memenuhi janji pada anak-anak. Sayup-sayup kudengar mereka mengeja hijaiah dengan bahasa Bugis yang

February 21, 2016

Rubrik Seni Koran Kompas Edisi 21/02/2016

Rubrik Seni Koran Kompas edisi 21 Februari 2016 menyiarkan Puisi RIKI DHAMPARAN PUTRA dengan judul Obituari Buluh; Meratap-ratap di Dapur One; Bukit Jagung Lamaholot Cerpen FAISAL ODDANG berjudul Mengapa Mereka Berdoa kepada Pohon. (*MgP)

Koran MgP
Puisi Riki Dhamparan Putra, Kompas 21/02/2016  |Photo  by MgP|

Koran Mingguan MgP
Cerpen Faisal Oddang, Kompas 21/02/2016    |Photo by MgP|

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar Edisi 21/02/2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar edisi 21 Februari 2016 menyiarkan Puisi Murni Mukhtar dengan judul Melihat Kabisat; Rindu Lelah; dan Sunyi yang Hilang, Cerpen Dikpa Lathifah berjudul Guna-Guna serta Apresiasi Israwaty Samad berjudul Sastra Siber, Generasi Teks dan Para Pencinta. (*MgP)

February 15, 2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar Edisi 14/02/2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar edisi 14 Februari 2016 menyiarkan Puisi Muhammad Nursam dengan judul Kita Disatukan Pena-NYA (Kepada Munaadhirah) dan Rahasia Hati, Cerpen Arpan Rachman berjudul Kasih Tiga Cinta serta Apresiasi Idris Makkatutu berjudul Gelisah yang Dimanjakan (Dari Novel The Palace of Illusions). (*MgP)

M Galang Pratama
Rubrik Budaya Fajar Makassar, 14/02/2016
|Foto by MgP|



Rubrik Seni Koran Kompas Edisi 14/02/2016

Rubrik Seni Koran Kompas edisi 14 Februari 2016 menyiarkan Puisi Dadang Ari Murtono berjudul rangga lawe dan petilasan grudhal. Dan Puisi Hasta Indriyana dengan judul sebuah ingatan dan arya wirarajaCerpen Okky Madasari dengan judul Dua Pengantin. (*MgP)

February 10, 2016

Mengatasi Kota dengan Kacamata Kata, Studi Kekuatan Mata Minus

Satu

Orang-orang ada untuk keadaan orang lain yang pura-pura, mereka menutup mata dan hanya bermain mata dengan kata-kata buta, tak ada rupa dan lupa bahwa perhatian hanya untuk manusia-manusia yang mendekati sempurna. Tak ada lagi penghargaan sesama, penghargaan hanya sebatas menghargai perbedaan saja, pun secara terpaksa dan dipaksa. Kota ini disulap hingga dipaksa menyamai surga, tapi yang terasa justru sebaliknya. Kejahatan di mana-mana, di setiap sudut jalan ramai hingga legang dengan orang-orangnya berjalan kaki, menikmati udara lembut sapuan pohon-pohon buatan. Manusia-manusia lebih suka bernafas dalam mobil, bepergian ke tempat-tempat hiburan gelap dan melupakan terang. Dunia ini sudah sepantasnya lelah dan meminta ditinggalkan.

Dua

Jalan untuk orang-orang dan kakinya sudah dilupakan. Menikmati hujan tidak lagi dengan payung, namun jas yang menutupi seluruh tubuh, menegaskan bahwa hujan sangatlah berbahaya. Dibanding dengan kata-kata, kejahatan akibat melupakan adalah kesendirian dalam hati dan diri sendiri.

Pasang ri Kajang, Suara Orang-Orang Dalam

1.
Kami ada mencintai tanah
dan tanah kami anggap seperti ibu kandung,
yang mengajarkan kami menerima sedih tanpa sesal.
Bersiap menanggung duka lara,
airmata yang menerima selain kesedihan.
Meski, runcing jalan penuh bebatuan menjeritkan tapak.
Kami tetap berjalan bertelanjang kaki.
Demi paham pasang yang serupa perut yang berisi manusia.
Bakal jadi tabungan kami membaca alam,
sekalipun lukisan memuat mini kehidupan yang luas membentang.
Pasang menjadi kejut yang tak pernah usai

February 08, 2016

Rubrik Seni Koran Kompas Edisi 07/02/2016

Rubrik Seni Koran Kompas edisi 7 Februari 2016 menyiarkan Puisi Inggit Putria Marga berjudul Kado dari Ina, Jika Aku Menulis Puisi, Dalam Rimba Kepalaku, dan Seorang Korban, Cerpen Rafael Yanuar dengan judul Arwah Kunang-Kunang. (*MgP)

February 07, 2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar Edisi 07/02/2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar edisi 07 Februari 2016 menyiarkan Puisi Wahyu Gandi G, Cerpen Hardiansyah Abdi Gunawan dengan judul Untukmu Kekasihku, Mey serta Apresiasi Rachmat Faisal Syamsu berjudul Catatan Film Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP); Jihad yang Tepat Tanpa Kekerasan. (*MgP)