January 31, 2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar Edisi 31/01/2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar edisi 31 Januari 2016 menyiarkan Puisi Al-Fian Dippahatang dengan judul Pasang ri Kajang, Suara Orang-Orang Dalam 1 dan Pasang ri Kajang, Suara Orang-Orang Dalam 2 serta puisi Baharuddin Iskandar berjudul kau mau kalau aku, kabarkan. Cerpen Akmal Mangkana Palaloi dengan judul Tau Lolo Bangko serta Apresiasi Arpan Rachman berjudul Komedi Hidup Terus Berputar Setelah Mati. (*MgP)

M. Galang Pratama
Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar, 31/01/2016 |Foto by MgP|

|Foto by MgP|
|Foto by MgP|

January 24, 2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar Edisi 24/1/2016

Pada Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar edisi Minggu 24 Januari 2016, karya sastra yang tersiar adalah Puisi Lula Arimbi berjudul Kepada Wyrah dan Untuk Saira (Mengenang Perpisahan Kita). Cerpen Ahmad MD dengan judul Jufri dan Perempuan yang Mencintai Kucing.
Sedangkan Apresiasi Ibe S Palogai berjudul Makassar, Amnesia Sosial, dan Patologi yang Disadari (Catatan dari pementasan City in Theatre Project, Kala Teater). (*MgP)


M Galang Pratama
Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar, 24/01/2016 |Foto by MgP|

Rubrik Seni Koran Kompas Edisi 24/1/2016

Pada Rubrik Seni Koran Kompas edisi Minggu 24 Januari 2016, karya sastra yang tersiar adalah Puisi SUNLIE THOMAS ALEXANDER berjudul Burung Kuwok* ; Nelayan Siam ; Duke Island* ; Tjang 11. Cerpen HAN GAGAS dengan judul Wayang Potehi: Cinta yang Pupus. (*MgP)


Puisi Kompas
Puisi Rubrik Seni Koran Kompas, 24/01/2016 |Foto by MgP|

M Galang Pratama
Cerpen Rubrik Seni Koran Kompas, 24/01/2016 |Foto by MgP|

January 18, 2016

Obituari Puisi

                                      -bagi pembaca yang beriman

Dari bohlam lampu yang jatuh dari langit kamar, dan
pecah kaca di pelataran tikar, aku membaca geliat cuaca
dan seruan naluri ihwal suatu kabar
konon katanya dalam Kitab Lupa dan Gelak Tawa
Kundera memandang bayang sekelompok orang menari
melayanglayang melampaui ubun kafekafe Praha yang penuh
oleh penyair menyeduh kopi demi lapar menggelombang dalam tubuh

Seumpama Kata

seumpama kata
kita susup dalam makna
dari kedalaman matamu derita pun lesup. di tengah
kesunyian menghawahidup
abadabad yang bisu meninggalkan kalender. menjauh dari angkaangka
sejumlah luka dipaketkan hujan tiap desember

Sampah

Telah memasuki lima hari. Kantongan plastik berisi sisa-sisa makanan itu ikut bertambah. Menumpuk di depan pagar. Satu dari kantongan sampah itu telah bolong tersebab tikus got yang mengorek-ngorek. Tukang sampah belum juga mengambil lima kantong hitam itu. Alhasil, bau busuknya yang menyengat membuat ibu-ibu kompleks tak lagi berkumpul riang. Yang ada di mulut mereka ialah keluhan mengapa tukang sampah tak kunjung datang.

Semangat Perempuan untuk Bantaeng

BANTAENG BAGAIKAN anak gadis yang sudah mulai pintar bersolek, kecantikannya mulai terkenal kemana – mana, bukan hanya di negeri ini saja, tetapi sampai ke luar negeri. Ini adalah prestasi yang membanggakan dan saya sangat mengapresiasi berbagai kemajuan yang telah terukir dengan indahnya di kota kelahiran saya ini.

Bantaeng merupakan tanah di mana para leluhur saya dilahirkan dan kemudian membuat denyut peradaban hingga saat ini. Namun saya khawatir jika kecantikan ini akan memudar seiring waktu. Kita butuh memperkuat pondasi dengan mengenal dan menanamkan sejak dini akan semua kearifan lokal yang tanah kita ini miliki sejak dahulu. 

Salah satunya adalah dengan mengenal sejarah. Bangunan yang tinggi menjulang tidak akan bertahan lama dan selamanya jika nilai – nilai yang merupakan tiang penyanggahnya lemah. Yang bisa mengokohkan tiang itu adalah nilai – nilai luhur dari para leluhur kita terdahulu. Saya akan mempersempit pembahasan kita pada sosok perempuan Bantaeng, karena kebetulan saya seorang perempuan yang selalu bangga dan bersyukur ditakdirkan oleh Tuhan sebagai salah seorang perempuan Bantaeng. 

Perempuan adalah penyokong bangunan yang memiliki posisi paling krusial dalam pembangunan. Contoh yang paling dekat adalah dalam keluarga, posisi dan peran perempuan adalah sebagai tiang keluarga. Kaum perempuanlah yang akan melahirkan, membesarkan dan mendidik generasi penerus. Bahkan kualitas sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kualitas kaum perempuan, sehingga mau tidak mau, setuju atau tidak setuju kaum perempuan harus meningkatkan kualitas pribadinya masing – masing.

Tidak mungkin akan terbentuk keluarga yang berkualitas tanpa meningkatkan kualitas perempuan. Kualitas pendidikan perempuan juga merupakan aspek yang sangat dianggap penting bagi pembangunan bangsa. Kaum perempuan harus berusaha meraih jenjang pendidikan setinggi mungkin, dengan pendidikan perempuan akan tahu banyak tentang kesehatan dan kehidupan sosial yang bisa menunjang kualitas pribadinya. Kemajuan peradaban sangat didukung oleh kualitas perempuan dalam sebuah daerah.

Mari kita menengok karakteristik perempuan Bantaeng menurut ajaran para pendahulu. Dalam khasanah budaya Bantaeng, seorang calon istri dianggap berkualitas tinggi jika ia memiliki tiga karakter yaitu: labbiri, mangkasa dan macca. Ketiganya merupakan karakteristik perempuan Bantaeng pada umumnya yang sudah merupakan ajaran yang harus diwariskan.Dalam konteks hubungan suami istri, ajaran ini mengajarkan bahwa seorang istri harus mampu membuat suaminya betah dirumah sekaligus membuat suaminya bangga karena memilikinya.

Labbiriartinya anggun, elok budi pekertinya, sehingga indah dipandang mata. Dalam karakter ini diharapkan perempuan Bantaeng mampu memperlihatkan kearifan budi pekertinya, dalam bersikap, berkata dan bergaul dengan orang lain. Keindahan lahir dan bathin akan tampak pada perempuan yang memiliki karakter labbiri. Kedekatannya pada Tuhan akan mempengaruhi seorang perempuan bisa memiliki karakter labbiri’. 

Hal ini merupakan kewajiban pokok yang harus dimiliki sebagai bentuk perwujudan bakti kepada keluarga besar, dengan demikian kapan dimana pun perempuan itu berada, dan dengan siapa dia bertemu, dia akan tetap menjaga nama baik keluarganya.

Mangkasa
artinya bersih dan terawat. Di sini perempuan Bantaeng diharuskan agar bisa merawat diri, merias diri ataupun berbusana yang sebaik – baiknya agar senantiasa tampak cantik, menarik dan mempesona.Karakter ini menitik beratkan pada penampilan fisik seorang perempuan yang juga merupakan kewajiban pokok yang harus dijaga sebagai bentuk perwujudan bakti dalam melayani suami. Dengan demikian, jika perempuan selalu tampak menarik, ia akan membuat suami betah tinggal dirumah.

Sedangkan Macca artinya pandai, cakap dan telaten. Di sini perempuan diharuskan untuk bisa pandai dan cakap dalam segala hal. Dalam sebuah keluarga istri adalah orang yang selalu dituntut untuk bisa mengurusi semua hal di dalam rumah, tentu saja dengan pengetahuannya tentang berbagai hal dan kecakapannya menyelesaikan segelumit pekerjaan rumah bisa membuat perempuan itu telaten. 

Mulai dari mengurusi dapur yang

Mencari Perempuan Bugis-Makassar

PADA SEBUAH sempat, saya memasang foto kamar saya yang berantakan karena sedang dicat di BlackBerry Messenger (BBM). Saya memberi keterangan (status) pada foto tersebut, “kamar ini sepertinya butuh sentuhan perempuan.” Saya juga menambahkan dua emoticon tertawa.

Seorang teman BBM saya mengomentarinya, “Halalkan cepat perempuanmu.” Saya hanya mengirimkan emotion senyum kepadanya. Ia membalasnya, “kenapa senyum?” Saya memutuskan mendiamkannya beberapa saat. Saya kembali sibuk mengecat kamar saya. Rasa capek setelah beraktivitas seharian membuat saya ingin cepat mengusaikannya lalu tidur.

Saat membenahi kamar, saya terusik dengan saran teman saya itu. Ia tinggal di luar Sulawesi Selatan (Sulsel) tepatnya di Denpasar, Bali. (Jangan tanyakan kenapa saya bisa dapat pin BBMnya, sebab saya juga tidak tahu). Aktivitas mengecat kamar saya hentikan. Saya kemudian mencuci tangan. Membiarkan aroma cat memenuhi kamar saya, membiarkan peralatan yang saya gunakan berserakan. Saya membaringkan tubuh kurus saya. Rasa capek menyergapnya.

“Sedang mencari perempuan yang akan dihalalkan,” balas saya kemudian sambil berbaring.
“Kan banyak tuh perempuan di kampung kamu, masa’ tidak ada yang mau?” balasnya lagi.
“Mencari perempuan Bugis-Makassar tidak hanya mencari perempuan yang akan menjadi pendamping hidup, tapi juga harus mencari sejumlah uang untuk menghalalkannya berupa uang panai, ” balas saya.
“Saya tak mengerti,” balasnya.

“Tidak mudah menghalalkan perempuan Bugis-Makassar,” balas saya lagi. Lalu percakapan (chat) kami berlanjut, diskusi ringan jarak jauh. Teman saya itu menawarkan diri menjadi perempuan Bugis-Makassar. Dia ingin seberuntung perempuan Bugis-Makassar yang dihormati oleh lelaki dalam bentuk uang panai’ yang jumlahnya bisa menyentuh angka ratusan juta rupiah. Dan saya ingin menjadi lelaki Denpasar, yang “mungkin” jika ingin menghalalkan perempuannya tidak serumit dalam masyarakat saya.

Saya mencoba pahami perasaan teman saya itu, sebagai perempuan tentu dia ingin memiliki lelaki yang rela membuktikan cintanya dalam bentuk yang lebih besar. Ingin diperlakukan istimewa dan dihargai. Uangpanai’ bukanlah sebuah upaya untuk membeli perempuan dari keluarganya. Bukan pula sekadar untuk membiayai pesta pihak perempuan. Tapi uang panai adalah salah satu bukti mengistimewakan dan menghargai perempuan.

Uang panai adalah upaya pembuktian cinta yang besar. Tidak sedikit lelaki yang rela mengorbankan apa saja demi menghalalkan perempuan yang dicintainya untuk diikat dalam ijab Kabul. Jika cinta sejati adalah pembuktian, adalah pernikahan. Maka lelaki yang menikahi perempuan Bugis-Makassar dengan alur adat yang seharusnya adalah pejuang cinta sejati sesungguhnya.

Uang panai menjadi fenomena tersendiri. Banyak dibincangkan, bahkan menjadi lelucon. Seorang teman pernah bergurau bahwa investasi paling baik dan menjanjikan sekarang ini adalah tanah, rumah dan anak perempuan. Gurauan tersebut saya hanya tanggapi dengan tertawa, tapi memiliki anak perempuan sebagai sebuah investasi orang tua dalam masyarakat Bugis-Makassar juga ada benarnya. Meski menjaga satu anak perempuan, kata sebagian orang lebih sulit daripada menjaga puluhan kerbau.

Chat kami terus berlanjut malam itu. Berkali-kali teman BBM saya tersebut meng

January 17, 2016

Rubrik Seni Koran Kompas Edisi 17/1/2016

Pada rubrik Seni Koran Kompas edisi 17 Januari 2016, karya sastra yang tersiar adalah Puisi Raudal Tanjung Banua dengan judul Hikayat, 1; Hikayat, 2; Hikayat, 3 dan Hikayat, 4. Puisi Ook Nugroho berjudul Peperangan Sunyi, Sajak Penghabisan, dan Menulis Sajak itu Sederhana. Dan Cerpen Sopianto dengan judul Elegi Tanah Melayu. (*MgP)


Muh. Galang Pratama
Puisi Rubrik Seni Koran Kompas, 17/1/2016 |Foto by MgP|
Muh. Galang Pratama
Cerpen Rubrik Seni Koran Kompas, 17/1/2016 |Foto by MgP|

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar Edisi 17/1/2016

Pada Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar edisi Minggu 17 Januari 2016, karya sastra yang tersiar adalah Puisi Sabila Anjangsana berjudul Seumpama Kata dan Obituari Puisi. Cerpen Muhammad Hidayat dengan judul Sampah.
Sedangkan Apresiasi A. Atte Shernylia Maladevi berjudul Semangat Perempuan untuk Bantaeng. (*MgP)


Muh. Galang Pratama
Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar, 17/1/2016   |Photo by MgP|

January 16, 2016

Perempuan yang Tidak Pernah Berbohong

Kau seperti merpati yang karena kehilangan
kompas alami, menolak terbangkan surat
pada seorang kekasih atau mengantarkan
kabar bahwa perang telah selesai.
Sebab seseorang mungkin akan jatuh cinta
pada orang lain, atau laga senjata akan
kembali membuat banyak orang mati.

Perempuan yang Mengingat Seluruh Tanggal

Tanggal-tanggal pantang luruh dari purnama
dan matamu mereka kekal di sana, mereka
berlarian di kepalamu, membentuk hal-hal
yang membangun masa lalu
untuk masa depanmu,

Kau mengingat tanggal saat kita pertama
saling tatap, saat hujan jatuh paling mula
di matamu, saat lilin dinyalakan dalam perayaan
hidupmu, saat bahagia dan duka menjadi satu,
dan saat orang-orang datang dan pergi
sambil membawa banyak tawaran seperti
mendung yang menjanjikan hujan
-tapi sebetulnya tidak pernah turun.
Semua tanggal dengan mudahnya
mukim di ingatanmu.

Tatapan Siklus

Kalian lahir,
Menatap dunia dalam tangis
Enggan berbicara pada alam
Sejuta harapan bertumpu
Tubuh mungil tanpa dosa mengeliat menerima

Kalian hidup,
Belajar berbuat untuk kilau cahaya
Baik dan buruk tak terhalang
Laju waktu berkejaran
Menikmati sajian bermakna

Tari Paduppa

Engkau terlihat cantik hari ini
Wajah bercahaya indah dipandang
Ditambah senyum anggun merusak logika
Lalu elok tubuhmu terbalut baju bodo

Mata enggan berkedip melihat putri raja
Kau lenggokkan tubuhmu ikuti irama gendang
Sepertinya aku terlarut dalam fantasi tarianmu
Semua gerak tubuhmu adalah isyarat

Tana Ugi'

Tana ugi' ancajingekku
Werekkada madecceng
Gau'-gau' sitinaja malebbi
Sipakatau', Sipakalebbi', Sipakainge'

Aku lahir, besar dan belajar
Bersama adat dan budaya
Cerminan pribadi Tau Ugi'
Rumpun yang sampai mati kucinta

SAHAM EMAS

Ada nafsu kuasa dan serakah bersekutu
diam-diam mereka bertemu
sepakat mereka akan raih saham emas
Lalu ada nama yang dicatut
padahal merek tidak patut
Emas masih berjaya
masih batu mulia
saham pun menggiurkan
hingga melumat setia

AKU NELAYAN

Dengan langkah pasti ke laut kusiapkan perahu
dan pukat doa-doa mengantarku juga wajah yang
menyimpan harapan akan kujaring rezeki sekuat
tenaga perahuku melaju tiada kata menyerah
pun aku tak kenal lelah
Boleh badai datang dan amuk gelombang
nelayan takkan pulang bila perahu kosong
bila harapan hilang

HIMNE

Aku menatap cahaya
Kulihat matamu
Kudengar lembut suara
Itulah hatimu
Ada gemuruh guruh
Itulah tekadmu
Di sana berkobar nyala api
Begita pula semangatmu

January 14, 2016

Kita Begini Saja

Ada perbedaan yang tak akan pernah bisa bersama
Sebab menyatu baginya adalah sebuah petaka
Sebab berpadu baginya adalah letupan-letupan airmata
Perbedaan ini bersinar di antara kita
Yang tahu benar arti cahaya
Hanya jika dipandangi dari jauh.
Kita begini saja

Pindah Rumah

Tiada lagi bunga-bunga yang biasa menghampar di dada puisi
Sesudah tirai biru di jendela ditutup jemari
Yang sering sementara kilau pagi matahari
Adalah kata sambutan yang kita ketahui

January 10, 2016

Budaya Koran Fajar Makassar edisi 10/1/2016


*Pada Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar edisi Minggu 10 Januari 2015, karya sastra yang tersiar adalah Puisi Batara Al-Isra berjudul Perempuan yang Mengingat Seluruh Tanggal dan Perempuan yang Tidak Pernah Bohong. Cerpen Edi Sutarto dengan judul Umbaumba dan Saraba.
Sedangkan Apresiasi Andi Reski JN berjudul La Kuttu Buleng; Petuah Awal Tahun 2016. (*MgP)


Muh. Galang Pratama
Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar, 10/1/2016 |Foto by MgP|

January 03, 2016

Budaya Koran Fajar Makassar edisi 3/1/2016

*Pada Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar edisi 3 Januari 2016, karya sastra yang dimuat adalah Puisi Ikhsan A. Panikkai dengan judul Tana Ugi' dan Tari Paduppa serta Puisi Irwandi Fahruddin berjudul Tatapan Siklus. Cerpen Muhammad Amir Jaya dengan judul Doa Akhir Tahun. Serta Apresiasi AHMAD MD berjudul Yang Sulit Dimengerti adalah Perempuan. (*MgP)


Muh. Galang Pratama
Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar, 3/1/2015 |Foto by MgP|

January 02, 2016

Budaya Koran Fajar Makassar edisi 27/12/2015

*Pada Rubrik Budaya Koran Harian Fajar Makassar edisi Minggu 27 Desember 2015, karya yang dimuat adalah Puisi Aspar Paturusi berjudul Himne, Aku Nelayan, dan Saham Emas. Kemudian terbit pula Cerpen Ellyyana Said dengan judul Dua Puluh Dua Desember. Sedangkan kolom Apresiasi di isi oleh Alfian Nawawi dengan judul Jabatan dan Kita dalam Balada Kursi-Kursi. (*MgP)

Muh. Galang Pratama
Rubrik Budaya Koran Makassar, 27/12/2015 |Foto by MgP|