March 26, 2016

Sang Revolusioner yang Terhormat



Kota Palopo yang terbakar
dibakar oleh NICA
kiri-kanan api
dipandang dengan hati
yang duka...

PATIWIRI berjuang mengangkat senjata dalam revolusi kemerdekaan menjadi anggota Pembela Keamanan Rakyat (PKR) ketika Datu Luwu ditangkap NICA. Penangkapan itu membuat pasukannya meletakkan senjata. Tapi dia menolak menyerah dan melarikan diri bersama empat orang Jepang bekas pelatih PKR. Mereka masuk hutan belantara di Sulawesi Tenggara.

Setelah keempat teman sepelariannya tewas, Patiwiri meninggalkan Sulawesi menyamar sebagai awak perahu menuju Surabaya. Sampai di Tanjung Priok terdengar kabar istrinya meninggal karena sakit. Sejak itu dia tak berniat pulang dan menjadi pelaut keliling dunia.

Baru di pelabuhan Suez, Patiwiri bertemu bekas kawan seperjuangannya di Palopo yang menceritakan bahwa kematian istrinya tidak wajar. Maka, sang pengarung lautan pun pulang demi menegakkan Siri' untuk membela kehormatan diri.

Dia mengalami dua kejadian pilu: pasukannya menyerah dan istrinya mati tidak wajar. Kepiluan itu menjadi prima causa atau faktor utama kisah dalam roman "Kota Palopo yang Terbakar" karya Musytari Yusuf.

Roman ini awalnya dikarang oleh Mohayus Abukomar dan menjadi pemenang hadiah sayembara mengarang UNESCO-IKAPI. Pertama kali terbit pada 1969 di Bandung. Bukunya sempat mengalami cetak ulang pada 1977. Kemudian kisah Patiwiri seperti terlupakan.

Selama 29 tahun, lembar demi lembar halamannya mengendap dalam masa-masa gelap. Akhirnya toACCAe Publishing di Makassar menerbitkannya kembali pada 2006.

Armin Mustamin Toputiri--yang memberi kata pengantar penerbit--mengatakan kepada penulis bahwa dia menemukan kerabat keluarga dari Mohayus Abukomar. Dari keluarganya pula Armin mengetahui pengarang itu memakai nama samaran. Nama aslinya adalah Musytari Yusuf.

Pertempuran PKR melawan NICA di Palopo pada awal 1946 diceritakan begitu pribadi dalam roman ini. Karena, menurut Armin, sang pengarang adalah satu seorang pelaku sejarah tersebut: dia memang anggota PKR.

Selain pertempuran yang menghanguskan kota Palopo, latar belakang pemberontakan DI/TII juga meng
hiasi jalan ceritanya. Patiwiri melakukan pembalasan terhadap komandan Momok Hitam pasukan elite TII. Ulasan yang cemerlang tentang latar belakang itu bisa dirujuk baik-baik pada resensi bertajuk "Narasi Orang Biasa di Tengah Gejolak DI/TII" dari Anwar Jimpe Rachman (Panyingkul, Citizen Reporter, Minggu, 23 Desember 2007).

Sementara sejarawan Harry A Poeze menyebutkan bahwa thriller sejarah dengan kombinasi fiksi dan fakta adalah aliran sastra dunia baru. Poeze menyatakan hal itu ketika menyanjung novel ES Ito, Rahasia Meede, pada 2007.

Di situlah kepeloporan Musytari Yusuf atau Mohayus Abukomar menemukan postulatnya. Sastrawan asal Luwu itu telah mengarang thriller (atau: roman) sejarah hampir 30 tahun sebelum sastra dunia mengenalnya sebagai sebuah aliran baru. Tak pelak lagi, roman "Kota Palopo yang Terbakar" merupakan salah satu tonggak bersejarah yang penting dalam kesusastraan Indonesia.

Pukauan roman ini terletak pada tata bahasanya yang indah. Hingga karena itu ia pantas dinamakan sastra. Sastrawan terkemuka Buya Hamka yang mengantar edisi keduanya, 1977, bahkan menyatakan, "Jalan bahasa Indonesia yang dipakai oleh Abukomar lemah lembut, sebagaimana lemah lembutnya budi bahasa orang Bugis-Makassar setiap hari, asal saja kehormatan dirinya tidak tersinggung." Kehalusan budaya tersebut niscaya dikagumi siapapun yang pernah membaca roman ini.

Namun, memang hingga kini masih jadi misteri: mengapa buku sastra kampiun sayembara seperti ini cenderung jarang laku di pasaran. Barangkali juga sudah tidak banyak lagi penikmat sastra yang membaca roman ini. Selain jarang terlihat dijual di toko-toko buku, edisi terakhirnya sendiri pun tampaknya sudah tidak dipasarkan lagi.

Berapa banyak misalnya pembaca karya sastra pemenang Nobel? Mungkin jauh lebih sedikit dari para pembaca dongeng HC Andersen, yang muncul dari Denmark untuk mencerahkan impian kanak-kanak di seluruh dunia lewat kisah-kisah ajaib yang mendidik dan menghibur hati. Berapa pembaca karya pemenang hadiah sastra? Barangkali tidak lebih banyak dari penggemar teenlit yang digubah Tere Liye buat pelipur lara bagi kaum patah hati sedunia.

Apa kekurangan itu terjadi cuma karena soal-soal yang berhubungan erat dengan strategi promosi penjualan? Atau lebih dari itu, apa masalahnya terkait pada model pengajaran sastra umumnya di sekolah? Jawabannya penting ditemukan.


Karya: Arpan Rachman


Rujukan:
  1. Disalin dari akun facebook Arpan Rachman
  2. Pernah tersiar di Koran Fajar Makassar, 20 Maret 2016

Post a Comment